Sabtu, 06 Juni 2009

Merangkai Riwayat Asal-usul Manusia::Antara Barat dan Timur (5/9)

Para ilmuwan hingga kini belum sepakat tentang rincian mekanisme kemunculan sedemikian banyak hominid hanya dalam tempo 7 juta tahun. Kendati demikian banyak ilmuwan mendukung hipotesis perubahan lingkungan sebagai pemicu kemunculan dan keragaman hominid.

Sampai awal abad ke-17 orang menganggap permukaan bumi tidak berubah. Akan tetapi, Francis Bacon (1620) meragukan pendapat itu sejak melihat kemiripan pantai timur Amerika Selatan dengan pantai barat Afrika. Namun kemiripan itu baru diteliti secara mendalam pada awal abad ke-20.

Pada tahun 1912 geolog Alfred Wegener melempar hipotesis pergeseran lempeng benua (continental drift) yang dipaparkan dalam The Origin of Continents and Oceans (1915). Ia menduga 100 juta tahun yang lalu Amerika Selatan, anak-benua India, Antartika, Australia, dan Afrika pernah menyatu sebagai satu benua. Ia menamai benua itu Gondwanaland seperti yang pernah diusulkan oleh geolog Austria Eduard Suess dalam The Face of the Earth (1883-1909).

Benua itu kemudian tercerai-berai akibat gerakan tektonik di perut bumi. Gerak itu relatif lamban, tidak lebih cepat daripada pertumbuhan kuku jari kita. Kendati demikian, dalam tempo jutaan tahun gerakan itu tidak hanya mengubah bentuk permukaan bumi menjadi seperti sekarang melainkan juga suhu lingkungan, arus laut, angin, dan curah hujan.

Perubahan lingkungan berdampak pada kehidupan tumbuhan yang jadi landasan piramida makanan. Perubahan pada aras tumbuhan ujung-ujungnya berdampak pula pada makhluk hidup di lapis yang lebih tinggi. Sepuluh tahun yang lalu paleontolog Elizabeth Vrba berpendapat bahwa perubahan lingkungan akibat pergeseran kulit bumi mendorong kepunahan dan kemunculan bentuk-bentuk kehidupan baru. Berangkat dari konsep ini kita punya gambaran mengenai Afrika menjelang kemunculan hominid kira-kira 15-6 jtl (periode Miosen).

Pada masa itu hamparan rimba belantara yang rapat menutupi Afrika dari barat sampai ke timur. Di sana hidup beragam spesies monyet termasuk leluhur gorila, simpanse, dan hominid. Suatu hari lapisan tanah di bawah Afrika bergerak saling menjauhi sehingga permukaan tanah Afrika merekah mulai dari Laut Merah lalu menjulur ke Ethiopia, Kenya, Tanzania, sampai Mozambique. Rekahan itu menyebabkan munculnya dataran baru yang tingginya berselisih 2.750m.

Peristiwa ini tidak hanya mengubah topografi Afrika tetapi juga iklim. Gerakan udara dari barat ke timur terpecah sehingga muncul daerah yang jarang ditimpa hujan di sisi timur. Menyusutnya jumlah hujan membuat beberapa tanaman mulai mati kekeringan. Kerapatan hutan mulai diselingi semak dan padang rumput. Sekitar 13 jtl, lanjutan gerak tektonik membentuk lembah raksasa yang menjulur dari utara ke selatan. Lembah itu, yang dinamakan Lembah Rekahan Besar (Great Rift Valley), menghalangi makhluk di timur mengungsi ke barat untuk menyelamatkan diri dari kondisi lingkungan yang mengering.

Antropolog Yves Coppens (1994) melontarkan hipotesa bahwa kondisi itu memaksa leluhur gorila, simpanse, dan hominid berkembang jadi spesies yang berbeda karena ada isolasi geografis. Proses semacam ini dikenal sebagai spesiasi allopatrik. Leluhur bersama mereka yang tinggal di kawasan belantara hutan tropis di sisi barat kemudian menjadi kera modern (simpanse, gorila, dan bonobo) sedangkan “saudara” mereka di timur menjadi hominid.

Coppens menamai skenario ini East Side Story. Skenario di atas semula lebih banyak diterima oleh para ilmuwan. Fosil hominid yang berusia antara 6-2 jtl memang ditemukan di sekitar Lembah Rekahan Besar. Menurut prediksi East Side Story, semestinya semakin tua hominid semakin dekat ke arah lembah. Akan tetapi sejak 11 Juli 2002 skenario itu buyar karena fosil hominid tertua ditemukan oleh Michel Brunet di Chad, 2.400 km dari Lembah Rekahan Besar! Sebaran hominid semestinya tidak selurus prediksi Coppens tetapi mungkin lebih mirip ledakan.

Dalam gambaran lama tentang evolusi manusia, hubungan kita dengan anggota hominid itu dilukiskan sebagai “kemajuan bertahap”. Mula-mula kera di hulu barisan, kemudian anggota keluarga hominid dijajar sesuai umur fosil, dan paling hilir adalah H sapiens. Gambaran itu sudah diragukan oleh para ilmuwan.

Mereka mulai condong pada hipotesa spesiasi (proses menjadi spesies) hominid yang mirip ledakan. Pada konsep “ledakan”, anakcucu yang lebih kompleks dan sederhana muncul hampir bersamaan, kontras dengan versi “kemajuan” yang berawal dari bentuk primitif sampai yang lebih kompleks. Dari sekian banyak spesies baru ada yang lestari dan ada juga yang punah. Gambaran proses “ledakan” mirip seperti semak yang bercabang-cabang pada titik yang berdekatan.

“Ledakan” spesies erat kaitannya dengan perubahan lingkungan. Pada akhir dekade 1970-an mekanisme ini sudah diterima sebagai penjelasan kemunculan beragam fauna multisel dalam tempo singkat pada awal periode Cambrian, 540 jtl (Cambrian Explosion). Mekanisme ini diperkirakan bakal bisa menjelaskan “keanehan” posisi Sahelanthropus.

Akan tetapi, perubahan itu rupanya masih belum disadari oleh berbagai kalangan. Masih banyak perdebatan, karikatur, kamus, atau buku yang menganggap evolusi sebagai “kemajuan” yang linier. Ambil contoh barisan hominid pada sampul buku Brain Waves Through Time karya Robert T. Demoss (1999) atau Children of Prometheus dari Christopher Wills (1999), bahkan The Origin of Species suntingan Greg Suriano (Grammercy, 1998). Ironisnya, dalam buku Ever Since Darwin (1977) Stephen Jay Gould menghajar kekeliruan ini namun edisi bahasa Belanda buku ini malah memasang sampul “kemajuan”!

Mimpi, simbol ,pertanda dan petualangan akan membawa pembaca seperti mendengar kembali suara suara bijak dalam “The Alchemist” . Dengan bah...